Pertemuan Online “Penerapan Protokol Kesehatan di Pesantren pada Era Adaptasi Kebiasaan Baru”
| Dilihat 848 Kali

Pertemuan Online “Penerapan Protokol Kesehatan di Pesantren pada Era Adaptasi Kebiasaan Baru”

Pertemuan Online “Penerapan Protokol Kesehatan di Pesantren pada Era Adaptasi Kebiasaan Baru”

Pesantren merupakan institusi yang potensial dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Pesantren memiliki sumber daya yang besar dengan adanya 27.722 pesantren dan 4.173.543 santri (Kementerian Agama, 2020). Disamping itu, pada situasi Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), pesantren yang merupakan tatanan pendidikan berasrama sangat potensial terjadinya penularan COVID-19.

Oleh sebab itu, pemerintah sangat berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan terkait dengan kegiatan belajar bagi anak usia sekolah, khususnya pesantren.

Dalam persiapan penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru, pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Bersama Empat Menteri antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 01/KB/2020; 516/2020; HK.03.01/Menkes/363/2020; 440-882/2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Kebijakan tersebut juga mengatur tentang protokol kesehatan yang harus diterapkan di pesantren apabila menerapkan kegiatan pembelajaran tatap muka.

Direktorat Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat melalui Sub Direktorat Potensi Sumber Daya Promosi Kesehatan selaku pelaksana promosi kesehatan di tatanan termasuk tatanan pesantren, menyelenggarakan pertemuan secara virtual dengan tema “Penerapan Protokol Kesehatan di Pesantren pada Era Adaptasi Kebiasaan Baru”melalui saluran aplikasi Zoom dan kanal Youtube akun @puspromkes.

Pertemuan ini dilaksanakan pada Rabu, 5 Agustus 2020 dengan narasumber dr. Siti Robinah Tarwiyati selaku Dokter Puskesmas Jetis, Ponorogo, Jawa Timur dan K. H. Heru Saiful Anwar, MA selaku Pimpinan Pondok Pesantren “Wali Songo” Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. Hadir pula dalam pertemuan tersebut Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr. Kirana Pritasari, MQIH dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Dr. Waryono, M.Ag mewakili Direktur Jenderal Pendidikan Islam memberikan sambutan.

Pertemuan ini dimoderatori oleh Direktur Promosi Kesehatan & Pemberdayaan Masyarakat, dr. Riskiyana Sukandhi Putra, M.Kes. Pertemuan dihadiri sejumlah pimpinan/pengelola pesantren di seluruh Indonesia, perwakilan dari Kementerian Agama RI, perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama, Perwakilan Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota, perwakilan seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota, dan lintas program Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Para peserta terlihat sangat antusias dimana sejumlah pertanyaan diajukan kepada narasumber dan jumlah peserta yang bergabung dalam pertemuan, baik melalui saluran aplikasi Zoom maupun kanal Youtube dengan total kehadiran 541 orang. Narasumber menyampaikan materinya berbasis pengalaman pembelajaran dengan topik “Pondok Ngabar siap menghadapi New Normal Life di Pondok Pesantren”.

Dalam paparannya tersebut disampaikan tentang persiapan kedatangan santri dan guru, proses kedatangan santri dan guru, masa Adaptasi Kebiasaan Baru di pesantren, dan masa Adaptasi Kebiasaan Baru di berbagai kegiatan.

Partisipasi aktif dari masyarakat pesantren, pembinaan, dan kerjasama dengan Puskesmas serta Satuan Tugas Penanganan COVID-19 sangat penting untuk keberhasilan upaya pencegahan dan pengendalian COVID-19. Keberhasilan pesantren akan memberikan kontribusi bermakna dalam upaya peningkatan status kesehatan masyarakat pesantren, khususnya di saat kedaruratan kesehatan masyarakat di Indonesia dan dunia pada umumnya.

Pesantren Sehat, Indonesia Maju!

Link Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=_U8K9uyTrpo

Link Materi: https://bit.ly/materiadaptasikebiasaanbarupesantren

Kontributor:

Muh. Nur Akhsin Ridho, S.Si, MKM

Eunice Margarini, SKM, MIPH



Artikel Sebelumnya
Pemberdayaan Masyarakat, Sarat akan Makna
Artikel Selanjutnya
Gerakan Pakai Masker Nasional