Remaja Putri Sehat Bebas Anemia di Masa Pandemi Covid-19
| Dilihat 585 Kali

Remaja Putri Sehat Bebas Anemia di Masa Pandemi Covid-19

Remaja Putri Sehat Bebas Anemia di Masa Pandemi Covid-19

Anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang perlu mendapat perhatian khusus. Menurut data Riskesdas 2013, anemia pada perempuan (23.9%) relatif lebih tinggi pada laki-laki (18.4%, serta anemia di pedesaan (22.8%) lebih tinggi daripada di perkotaan (20.6%). Terdapat 26.4% anak usia 5-14 tahun dan dan 18,4% usia 15-24 tahun mengalami anemia. Artinya, di Indonesia ada sekitar 1 dari 5 anak remaja menderita anemia.

Beberapa dampak anemia pada remaja putri (rematri) cukup memprihatinkan, seperti penurunan kesehatan dan prestasi sekolah. Di masa dewasa, kondisi anemia diperparah ketika hamil yang menyebabkan tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan janin, komplikasi hamil dan persalinan, serta berakibat pada kematian ibu dan anak.

Anemia merupakan sebuah kondisi tubuh dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah lebih rendah dari yang seharusnya. Untuk rematri dikatakan anemia apabila Hb < 12 gr/dl. Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen dan menghantarkan oksigen ke seluruh sel jaringan tubuh, termasuk otot dan otak untuk melakukan fungsinya. Tanda-tanda anemia lazim disebut dengan 5 L, yaitu lesu, lelah, letih, lemah dan lunglai.

Beberapa hal penyebab rematri mengalami anemia, seperti menstruasi/ kehilangan banyak darah, kurang asupan kaya zat besi dan protein, sering melakukan diet yang keliru, dan sedang tumbuh pesat yang tidak seimbang dengan asupan gizinya.

Dalam masa pandemi Covid-19, anak dan remaja putri perlu tetap sehat dan bebas anemia. Salah satu caranya adalah dengan mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) agar dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini juga didukung dengan mengonsumsi makanan yang cukup mengandung zat besi dan protein agar tubuh dapat membentuk hemoglobin dan dapat menyerap zat besi dengan baik. Selain itu, rematri dihimbau untuk mengonsumsi makanan gizi seimbang (isi piringku), makan buah sayur secukupnya, memeriksa kadar Hb, serta mengonsumsi vitamin A, C, E.

Adapun mengonsumsi TTD satu tablet per minggu harus dengan air putih dan bukan cairan lainnya (seperti teh, kopi, dan susu), karena dapat menghambat penyerapan zat besi. Khusus di masa pandemi, pesan protokol kesehatan tetap digaungkan agar rematri tetap tidak menerapkan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir selama 20 detik, memakai masker dan menjaga jarak minimal 1 meter. Namun, bagi rematri dengan status kontak erat, suspek dan konfirmasi positif Covid-19, pemberian TTD ditunda dan dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu.

Salah satu hambatan bagi rematri mengonsumsi TTD adalah adanya rasa mual atau efek samping lainnya. Lalu bagaimana mengatasinya? Tidak perlu kuatir, karena efeknya hanya sementara. Ketika terasa mual, perih di ulu hati, serta tinja berwarna kehitaman, hal itu akan berkurang Ketika tubuh sudah menyesuaikan. Untuk mengurangi gejalanya, rematri dihimbau untuk meminum TTD setelah makan atau ketika perut tidak dalam kondisi kosong, dan tidak lupa konsumsi gizi seimbang. Hal ini menguatkan rematri untuk tetap mengonsumsi TTD di masa pandemi agar dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Kontributor:

Eunice Margarini, SKM, MIPH (PKM Ahli Muda, Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan)



Artikel Sebelumnya
Pemberdayaan Masyarakat, Sarat akan Makna
Artikel Selanjutnya
Vaksinasi Covid-19 di Lingkungan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka